Sabtu, 23 April 2011

Ketika Justin Bieber Jadi Idola

Siapa tak kenal
penyanyi idola
asal Kanada,
Justin Bieber.
Penyanyi ini
masih berusia remaja, namun
sudah bisa sejajar dengan para
penyanyi senior lainnya. Bagi
kalangan anak remaja anak baru
gede (ABG) khususnya puteri,
nama Justin Bieber sudah pasti
tidak asing di telinga mereka.
Pada tanggal 23 April ini, Justin
dikabarkan menghentak Jakarta
dengan tembang-tembangnya.
Gara-gara kedatangannya di
sebagian tempat seperti di salah
satu mal di Jakarta terjadi
antrean yang mengular demi
mendapatkan tiket konser Justin.
Padahal harga tiket yang dijual
termasuk mahal. Untuk kelas
festival, harga tiket dipatok Rp 1
juta. Bahkan dikabarkan untuk
ngantri saja, ada yang sudah
ngantri sejak shuhuh, padahal
loket pembelian tiket baru
dibuka pukul 09.00 WIB.
Menyayangkan Kondisi ABG
Yang kami ingin angkat dalam
bahasan ini adalah mengenai
keadaan remaja saat ini, yang
sudah semakin jauh dari agama
mereka. Pergaulan kebanyakan
mereka sudah semakin rusak.
Yang jadi idola pun bukanlah
seorang muslim. Mereka lebih
mengenal Justin Bieber, mungkin
dikenal pula tanggal lahir sampai
pada hobinya. Mereka lebih
mengenalnya dari Nabi panutan
mereka sendiri. Coba tanyakan
saja pada para remaja, banyak
yang tidak tahu di mana Nabi
mereka lahir, di Makkah atau di
Madinah. Mungkin bisa jadi ada
yang beri jawaban yang ngawur
kalau Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir
di Palestina karena saking
jahilnya. Sungguh prihatin. Ini
baru mengenal Nabi mereka
saja. Belum lagi mengenal seluk
beluk lainnya tentang Islam.
Coba tanyakan kembali, “Tahu
gak jika di malam hari mimpi
basah harus mandi junub ?”
Barangkali jawaban baliknya,
“ Bagaimana cara mandi junub?
Saya gak tahu”. Subhanallah ...
Padahal kondisi seperti ini akan
ia temui di saat ia dewasa. Lantas
kenapa sampai hal yang wajib
diilmui seperti ini tidak diketahui?
Dalam masalah lainnya pun kita
bisa turut sedih. Banyak remaja
yang saat ini yang tidak bisa baca
Al Qur ’an, atau mungkin baru
bisa sampai pelajaran iqro’ jilid 2.
Sejak kecil hanya tahu
bagaimana bisa pintar ngomong
Inggris. Al Qur ’an jadi nomor
1000 untuk dikuasai karena mesti
les Inggris, bela diri, les piano, les
tari, dan lainnya. Wallahul
musta ’an.
Kondisi para remaja saat ini tidak
jauh dari yang Allah sebutkan
dalam ayat,
ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﻇﺎﻫﺮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻫﻢ ﻋﻦ
ﺍﻟﺂﺧﺮﺓ ﻫﻢ ﻏﺎﻓﻠﻮﻥ
“Mereka hanya mengetahui yang
lahir (saja) dari kehidupan dunia;
sedang mereka tentang
(kehidupan) akhirat adalah
lalai. ” (QS. Ar Ruum: 7)
Pasti di masa tua remaja-remaja
seperti ini akan penuh
penyesalan dan menyesali
hidupnya di masa muda. Remaja
yang selalu menjaga hak Allah
dengan mentauhidkan-Nya, rajin
menjaga shalat dan kewajiban
lainnya, serta selalu
memperhatikan agamanya, pasti
Allah akan menjaga dirinya
(kondisi fisiknya dan
rohaniahnya) di masa tuanya.
Lihat yang dikisahkan oleh Ibnu
Rajab berikut ini.
Ibnu Rajab rahimahullah pernah
menceritakan bahwa sebagian
ulama ada yang sudah berusia di
atas 100 tahun. Namun ketika
itu, mereka masih diberi
kekuatan dan kecerdasan. Coba
bayangkan bagaimana dengan
keadaan orang-orang saat ini
yang berusia seperti itu?
Diceritakan bahwa di antara
ulama tersebut pernah
melompat dengan lompatan
yang amat jauh. Kenapa bisa
seperti itu? Ulama tersebut
mengatakan, “Anggota badan ini
selalu aku jaga agar jangan
sampai berbuat maksiat di kala
aku muda. Balasannya, Allah
menjaga anggota badanku ini di
waktu tuaku. ”Namun ada orang
yang sebaliknya, sudah berusia
senja, jompo dan biasa
mengemis pada manusia. Para
ulama pun mengatakan tentang
orang tersebut, “Inilah orang
yang selalu melalaikan hak Allah
di waktu mudanya, maka Allah
pun melalaikan dirinya di waktu
tuanya. ”[1]
Tunggu saja balasannya di masa
tua bagi remaja yang penuh
kelalaian, hidup hanya ingin
foya-foya, lalai akan kewajiban
shalat dan lainnya atau yang
punya prinsip “mumpung masih
muda, foya-foya sajalah dulu”.
Lihat saja nanti ketika kondisinya
sudah lemah dan jompo, baru ia
sesali masa mudanya.
Ingatlah selalu nasehat nabi kita
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Manfaatkanlah masa muda kita
sebelum datang masa tua kita
nanti. Dalam hadits riwayat Al
Hakim dalam Mustadroknya
disebutkan,
ﺍﻏﺘﻨﻢ ﺧﻤﺴﺎ ﻗﺒﻞ ﺧﻤﺲ : ﺷﺒﺎﺑﻚ ﻗﺒﻞ
ﻫﺮﻣﻚ ﻭ ﺻﺤﺘﻚ ﻗﺒﻞ ﺳﻘﻤﻚ ﻭ ﻏﻨﺎﻙ ﻗﺒﻞ
ﻓﻘﺮﻙ ﻭ ﻓﺮﺍﻏﻚ ﻗﺒﻞ ﺷﻐﻠﻚ ﻭ ﺣﻴﺎﺗﻚ ﻗﺒﻞ
ﻣﻮﺗﻚ
“Manfaatkan lima perkara
sebelum lima perkara: (1) Waktu
mudamu sebelum datang waktu
tuamu, (2) Waktu sehatmu
sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum
datang masa kefakiranmu, (4)
Masa luangmu sebelum datang
masa sibukmu, (5) Hidupmu
sebelum datang kematianmu. ”[2]
Ketika Justin Lebih Jadi Idola
Justin benar-benar jadi idola
yang luar biasa. Padahal Justin
hanyalah seorang remaja. Coba
saja lihat sampai mesti ngantri
untuk dapat tiketnya meskipun
harus menunggu berjam-jam.
Padahal jika kita perhatikan
Justin sendiri bukanlah muslim.
Yang patut kita ingat, kita
diperintahkan oleh Allah Ta ’ala
untuk punya rasa benci pada
musuh Allah dari kalangan
orang kafir (non muslim). Allah
Ta ’ala berfirman,
ﻻ ﺗﺠﺪ ﻗﻮﻣﺎ ﻳﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ
ﻳﻮﺍﺩﻭﻥ ﻣﻦ ﺣﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ
“Kamu tidak akan mendapati
sesuatu kaum yang beriman
kepada Allah dan hari akhirat,
saling berkasih sayang dengan
orang-orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya ” (QS. Al
Mujadilah: 22).
Tidakkah kita renungkan pula
bahwa seseorang akan
dikumpulkan dengan orang yang
ia cintai dan yang dijadikan idola.
Dalam hadits riwayat Ath
Thobroni, dari ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﻟﺎ ﻳﺤﺐ ﺃﺣﺪ ﻗﻮﻣﺎ ﺇﻟﺎ ﺣﺸﺮ ﻣﻌﻬﻢ ﻳﻮﻡ
ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ
“Tidaklah seseorang mencintai
suatu kaum melainkan dia akan
dikumpulkan bersama mereka
pada hari kiamat nanti. ”[3]
Bagaimana jika yang dicintai dan
diidolakan adalah seorang
penyanyi dan itu non muslim?!
Semoga bisa jadi renungan!
Seharusnya yang jadi idola dan
yang dicintai adalah para Nabi,
para sahabat dan orang sholih,
maka engkau akan bahagia
berkumpul bersama mereka.
Dalam riwayat dalam Shohih
Bukhari, Anas mengatakan,
ﻓﻤﺎ ﻓﺮﺣﻨﺎ ﺑﺸﻰﺀ ﻓﺮﺣﻨﺎ ﺑﻘﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻰ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ » - ﺃﻧﺖ ﻣﻊ ﻣﻦ
ﺃﺣﺒﺒﺖ . « ﻗﺎﻝ ﺃﻧﺲ ﻓﺄﻧﺎ ﺃﺣﺐ ﺍﻟﻨﺒﻰ -
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻭﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ،
ﻭﺃﺭﺟﻮ ﺃﻥ ﺃﻛﻮﻥ ﻣﻌﻬﻢ ﺑﺤﺒﻰ ﺇﻳﺎﻫﻢ ، ﻭﺇﻥ
ﻟﻢ ﺃﻋﻤﻞ ﺑﻤﺜﻞ ﺃﻋﻤﺎﻟﻬﻢ
“Kami tidaklah pernah merasa
gembira sebagaimana rasa
gembira kami ketika mendengar
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam: Anta ma’a man ahbabta
(Engkau akan bersama dengan
orang yang engkau cintai). ”
Anas pun mengatakan,
ﻓﺄﻧﺎ ﺃﺣﺐ ﺍﻟﻨﺒﻰ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -
ﻭﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ، ﻭﺃﺭﺟﻮ ﺃﻥ ﺃﻛﻮﻥ ﻣﻌﻬﻢ
ﺑﺤﺒﻰ ﺇﻳﺎﻫﻢ ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺃﻋﻤﻞ ﺑﻤﺜﻞ ﺃﻋﻤﺎﻟﻬﻢ
“Kalau begitu aku mencintai
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar.
Aku berharap bisa bersama
dengan mereka karena
kecintaanku pada mereka,
walaupun aku tidak bisa beramal
seperti amalan mereka. ”[4]
Orang Tua yang Sudah Tidak
Ambil Peduli
Remaja-remaja bisa jadi rusak
seperti ini, itu pun karena sikap
orang tua mereka yang tidak
ambil peduli. Tidak sedikit orang
tua yang tidak lagi
memperhatikan shalat anaknya.
Ketika ada acara TV atau ada
acara konser, tidak pernah ortu
mengajak anaknya untuk
melaksanakan shalat lima waktu.
Orang tua tidak lagi peduli
anaknya bisa baca Al Qur ’an
atau tidak. Ortu lebih senang jika
anaknya ikut les bahasa Inggris,
les piano daripada tiap sore
mesti ke masjid untuk ikut TPA
mempelajari kitab suci Al Qur ’an.
Ortu pun tidak punya rasa
peduli, terserah saja anaknya
ingin digandeng oleh lelaki siapa
saja. Nantinya ketika sudah
terjadi perzinaan barulah datang
penyesalan.
Padahal selaku orang tua
diperintahkan untuk menjaga diri
dan anak-anak dari jilatan
neraka. Allah Ta ’ala berfirman,
ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻗﻮﺍ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﺃﻫﻠﻴﻜﻢ
ﻧﺎﺭﺍ
“Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api
neraka. ” (QS. At Tahrim: 6). ‘Ali
bin Abi Tholib menjelaskan
maksud ayat ini, “Ajarkanlah
kebaikan untuk dirimu dan
keluargamu. ” Ibnu ‘Abbas
menjelaskan, “Beramallah
dengan melakukan ketaatan
pada Allah dan jauhilah berbuat
maksiat pada-Nya.
Perintahkanlah pula keluargamu
untuk berdzikir (banyak
mengingat Allah) sehingga Allah
menyelamatkan kalian dari
neraka. ”[5]
Kepala rumah tangga (ayah)
yang membiarkan perbuatan
maksiat pada keluarganya itulah
yang disebutkan dalam hadits
sebagai ad dayyuts. Dalam hadits
riwayat An Nasai, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺛﻠﺎﺛﺔ ﻟﺎ ﻳﻨﻈﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻳﻮﻡ
ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺍﻟﻌﺎﻕ ﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻪ ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﻤﺘﺮﺟﻠﺔ
ﻭﺍﻟﺪﻳﻮﺙ
“Tiga orang yang tidak akan
dilihat oleh Allah ‘azza wa jalla
pada hari kiamat yaitu: (1) orang
yang durhaka pada orang tua,
(2) wanita yang menyerupai laki-
laki, (3) ad dayyuts. ”[6]Ad
dayyuts adalah seorang suami
atau bapak yang membiarkan
terjadinya perbuatan buruk
dalam keluarganya. [7]
Apalagi jika kita menilik
tembang-tembang itu sendiri
termasuk perbuatan mungkar
dan maksiat sebagaimana
disepakati oleh para ulama
madzhab. Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan,
“ Tidak ada satu pun dari empat
ulama madzhab yang berselisih
pendapat mengenai haramnya
alat musik. ”[8] Ibnu Mas’ud
mengatakan, “Nyanyian
menumbuhkan kemunafikan
dalam hati sebagaimana air
menumbuhkan sayuran. ”[9]
Imam Asy Syafi’i. Beliau berkata,
“Nyanyian adalah suatu hal yang
sia-sia yang tidak kusukai karena
nyanyian itu adalah seperti
kebatilan. Siapa saja yang sudah
kecanduan mendengarkan
nyanyian, maka persaksiannya
tertolak. ”[10]
Semoga Allah memperbaiki
keadaan remaja saat ini untuk
kembali taat pada Allah dan juga
memberi taufik pada setiap
orang tua untuk memperhatikan
anak-anak mereka dalam
ketaatan.
Wallahu waliyyut taufiq.
My best friend request
(Amrullah), finished @
Panggang-Gunung Kidul, 20
Jumadal Ula 1432 H (23/04/2011)
Artikel www.remajaislam.com
[1] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal
Hikam, hal. 225.
[2] HR. Al Hakim dalam Al
Mustadroknya, dikatakan oleh
Adz Dzahabiy dalam At Talkhish
berdasarkan syarat Bukhari-
Muslim. Hadits ini dikatakan
shohih oleh Syaikh Al Albani
dalam Al Jami ’ Ash Shogir
[3] HR. Thobroni dalam Ash
Shogir dan Al Awsath. Perowinya
adalah perowi yang shahih
kecuali Muhammad bin Maimun
Al Khiyath, namun ia
ditsiqohkan. Lihat Majma ’ Az
Zawaid no. 18021.
[4] HR. Bukhari no. 3688.
[5] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim,
14/58.
[6] HR. An Nasai no. 2562 dan
Ahmad 2/134. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini
hasan shahih. Syaikh Syu ’aib Al
Arnuth mengatakan bahwa
sanad hadits ini hasan.
[7] Fathul Bari, 10/406.
[8] Majmu’ Al Fatawa,
11/576-577.
[9] Lihat Talbis Iblis, Ibnul Jauzi,
hal. 289, Darul Kutub Al ‘Arobi,
cetakan pertama, 1405 H
[10] Lihat Talbis Iblis, 283.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkatalah dengan sopan santun..:D