Jumat, 22 April 2011

Umat Muslim Haram Merayakan Valentine's Day

Oleh: Ust. Zen Yusuf Al
Choodlry
Fenomena perayaan Valentine's
Day tidaklah terlalu asing di
beberapa kota besar di
Indonesia, seperti Jakarta,
Bandung, Surabaya, Yogyakarta,
dan kota-kota lainnya. Para
remaja, walau baru kelas satu
SMP, sudah mengenal budaya
setan ini. Mereka biasa
merayakannya dengan
mengadakan lomba saling
merayu antara lawan jenis, saling
memberikan bunga dan hadiah
kepada pacarnya, mengadakan
pesta musik yang terkadang
disertai minuman keras tanpa
mempedulikan terjadinya
percampuran pria dan wanita
non-mahram. Bahkan, acara ini
oleh mereka dijadikan ajang
untuk mengekspresikan hawa
nafsu kepada lawan jenis,
misalnya mencium pipi,
memegang tangan, sampai
melakukan perbuatan yang
kelewat batas, naudzu billahi min
dzalik. Lucunya, perayaan ini pun
rupanya tidak hanya dilakukan
oleh anak muda. Bapak-bapak,
Ibu-ibu, dan tante-tante pun
tidak ketinggalan 'bertaklid'
merayakan budaya sesat ini.
Lebih memprihatinkan lagi,
budaya ini telah menjarah
remaja Islam, remaja yang
diwanti-wanti oleh Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam untuk selalu mengikat
perilakunya dengan ajaran Islam
dan tidak membebek kepada
cara hidup orang kafir, malah
larut dalam perayaan jahiliah ini
dengan meninggalkan akidah
Islam.
Budaya perayaan
Valentine's Day telah
menjarah remaja
Islam . . .membebek
kepada cara hidup orang
kafir dalam perayaan
jahiliah ini dengan
meninggalkan akidah Islam.
Mereka yang melakukan
perayaan ini berdalih dengan
kasih sayang. Padahal, pesta
semalam suntuk dalam rangka
ber-Valentine's Day diikuti
dengan perbuatan dan tindakan
yang bertentangan dengan
moral dan agama (khususnya
agama Islam) tidak akan
melahirkan kasih sayang yang
sejati. Kasih sayang yang
dilahirkannya hanyalah kasih
sayang semu dan palsu. Bukan
kasih sayang, mungkin lebih
tepat disebut hawa nafsu.
Ber-Valentine's Day
tidak akan melahirkan
kasih sayang yang sejati. . .
Bukan kasih sayang,
mungkin lebih tepat
disebut hawa nafsu.
Sejarah Singkat Valentine's
Day
Valentin, atau Valentinus yang di
Indonesia beberapa waktu
terakhir ini mulai dipopulerkan
secara luas dengan istilah
Valentin (tanpa e atau huruf s)
sebetulnya nama seorang martir
(orang Kristen yang terbunuh
karena mempertahankan ajaran
agama yang dianutnya). Valentin
yang sebenarnya adalah nama
seorang tokoh agama Kristen
yang karena kesalehan dan
kedermawanannya diberi gelar
Saint atau Santo disingkat
dengan St., yang mempunyai
tempat istimewa di dalam ajaran
agama ini. Panggilan atau gelar
ini dilekatkan pula kepada tokoh
Kristen yang lainnya, seperti St.
Paul, St. Peter, St. Agustine dan
sebagainya. St. hanya
dihubungkan dengan nama
seorang penganjur dan
pemimpin besar agama Kristen,
dan karena itu tidak dapat
diberikan kepada sembarang
pemeluk agama ini, yang tingkat
keagamaannya masih rendah.
St. Valentin ini karena
pertentangannya dengan Kaisar
CLAUDIUS II, penguasa Romawi
pada waktu itu, berakhir dengan
pembunuhan atas dirinya pada
abad ketiga, tepatnya pada
tanggal 14 Februari tahun 270
Masehi. Menurut kepercayaan
Kristen, kematian Valentin ini
dikategorikan martir membela
agamanya, sebagaimana orang
Islam menyebut syahid bagi
seorang muslim yang terbunuh
di medan jihad.
Kematian yang tragis, kesalehan,
dan kedermawanan Valentin ini
tidak dapat dilupakan oleh para
pengikutnya di belakang.
Valentine dijadikan simbol bagi
ketabahan, keberanian, dan
kepasrahan seorang Kristen
menghadapi kenyataan
hidupnya. Namanya dipuja dan
diagungkan dan hari
kematiannya diperingati oleh
pengikutnya dalam setiap
upacara keagamaan yang
dianggap sesuai dengan peristiwa
tragis itu. Upacara peringatan
yang pada mulanya bersifat
religius itu dimulai pada abad
ketujuh Masehi dan berlangsung
sampai abad keempat belas, dan
setelah abad itu signifikansi
keagamaannya mulai hilang dan
tertutup oleh upacara dan
ceremony yang non-agamis.
Hari Valentin, sebagaimana
dikatakan di atas, adalah hari
kematian Valentine yang
kemudian diperingati oleh para
pengikutnya setiap tanggal 14
Februari. Kemudian hari
Valentine ini dihubungkan pula
dengan pesta atau perjamuan
kasih sayang bangsa Romawi
kuno yang disebut supercalia
yang biasanya jatuh pada tanggal
15 Februari. Setelah orang
Romawi masuk Kristen, maka
pesta supercalia itu secara
religius dikaitkan dengan
kematian atau upacara kematian
St. Valentine.
Penerimaan Valentine sebagai
model kasih sayang tulus diduga
seperti berasal dari kepercayaan
orang Eropa, bahwa masa kasih
sayang mulai bersemi bagi
burung jantan dan burung
betina pada tanggal 14 Februari
setiap tahunnya. Perkiraannya
atau kepercayaannya ini lalu
berkembang menjadi pengertian
umum bahwa sebaiknya pihak
pemuda mencari seorang
pemudi (wanita) untuk
menjadikan pasangannya dan
sebaliknya pada tanggal
tersebut. Bersamaan dengan itu,
mereka menyarankan untuk
saling tukar tanda mata atau
cadeau (kado) sebagai lambang
terbinanya kasih sayang di antara
mereka. Namun, Valentine ini
lebih dipopularkan lagi oleh
orang-orang Amerika dalam
bentuk greeting card (kartu
ucapan selamat) terutama sejak
berakhirnya Perang Dunia I.
Valentine ini lebih
dipopularkan lagi oleh
orang-orang Amerika
dalam bentuk greeting
card (kartu ucapan
selamat) terutama sejak
berakhirnya Perang Dunia
I.
Hukum Merayakan Valentine's
Day
Keinginan untuk ikut-ikutan
memang ada dalam diri manusia,
akan tetapi hal tersebut menjadi
tercela dalam Islam apabila
orang yang diikuti berbeda
dengan kita dari sisi keyakinan
dan pemikiran. Apalagi, bila
mengikuti dalam perkara akidah,
ibadah, syiar dan kebiasaan.
Padahal, Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam telah melarang
untuk mengikuti tata cara
peribadatan selain Islam, artinya,
"Barang siapa meniru suatu
kaum, maka ia termasuk dari
kaum tersebut." (HR At-Tirmizi).
Abu Waqid meriwayatkan,
"Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam saat keluar menuju
Perang Khaibar, beliau melewati
sebuah pohon milik orang-orang
musyrik, yang disebut dengan
Dzaatu Anwaath, biasanya
mereka menggantungkan
senjata-senjata mereka di pohon
tersebut. Para sahabat berkata,
'Wahai Rasulullah, buatkan
untuk kami Dzaatu Anwaath,
sebagaimana mereka mempunyai
Dzaatu Anwaath.' Maka
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, 'Maha Suci
Allah, ini seperti yang diucapkan
kaum Nabi Musa, 'Buatkan
untuk kami tuhan sebagaimana
mereka mempunyai tuhan-
tuhan.' Demi Dzat yang jiwaku di
tangan-Nya, sungguh kalian
akan mengikuti kebiasaan orang-
orang yang ada sebelum
kalian'." (HR At-Tirmizi, ia
berkata, hasan sahih).
Berkasih-sayang versi valentinan
ini haruslah diketahui terlebih
dahulu hukumnya, lalu
diputuskan apakah akan
dilaksanakan atau ditinggalkan.
Dengan melihat dan memahami
asal-usul serta fakta pelaksanaan
Valentine's Day, sebenarnya
perayaan ini tidak ada sangkut
pautnya sedikit pun dengan
corak hidup seorang muslim.
Tradisi tanpa dasar ini lahir dan
berkembang dari segolongan
manusia (kaum/bangsa) yang
hidup dengan corak yang sangat
jauh berbeda dengan corak
hidup berdasarkan syariat Islam
yang agung.
Sangat jelas bahwa Valentine
Day adalah budaya orang kafir,
yang kita (umat Islam) dilarang
untuk mengambilnya. Kita
dilarang menyerupai budaya
yang lahir dari peradaban kaum
kafir, yang jelas-jelas
bertentangan dengan akidah
Islam. Sungguh, ikut merayakan
hari valentin adalah tindakan
haram dan tercela.
Valentine Day adalah
budaya orang kafir, yang
kita (umat Islam) dilarang
untuk mengambilnya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah
rahimahullah berkata,
"Memberikan ucapan selamat
terhadap acara ritual orang kafir
yang khusus bagi mereka, telah
disepakati bahwa perbuatan
tersebut haram. Semisal
memberi selamat atas hari raya
dan puasa mereka, dengan
mengucapkan, "Selamat hari
raya" dan sejenisnya. Bagi yang
mengucapkannya, kalaupun
tidak sampai pada kekafiran,
paling tidak itu merupakan
perbuatan haram. Berarti ia
telah memberi selamat atas
perbuatan mereka yang
menyekutukan Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Bahkan, perbuatan
tersebut lebih besar dosanya di
sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan lebih dimurkai daripada
memberi selamat atas perbuatan
minum khamar atau membunuh.
Banyak orang yang terjerumus
dalam suatu perbuatan tanpa
menyadari buruknya perbuatan
tersebut. Seperti orang yang
memberi selamat kepada orang
lain atas perbuatan maksiat,
bid'ah, atau kekufuran. Padahal,
dengan itu ia telah menyiapkan
diri untuk mendapatkan
kemarahan dan kemurkaan
Allah Subhanahu wa Ta'ala."
. . . Memberikan ucapan
selamat terhadap acara
ritual orang kafir yang
khusus bagi mereka, telah
disepakati bahwa
perbuatan tersebut
haram . . . .
Syekh Muhammad bin Shaleh
Al-Utsaimin ketika ditanya
tentang Valentine's Day
mengatakan, "Merayakan hari
Valentine itu tidak boleh, karena
alasan berikut. Pertama, ia
merupakan hari raya bid'ah yang
tidak ada dasar hukumnya di
dalam syariat Islam. Kedua, ia
dapat menyebabkan hati sibuk
dengan perkara-perkara
rendahan seperti ini yang sangat
bertentangan dengan petunjuk
para salaf saleh (pendahulu
kita)--semoga Allah meridhai
mereka. Maka, tidak halal
melakukan ritual hari raya
mereka, baik dalam bentuk
makan-makan, minum-minum,
berpakaian, saling tukar hadiah,
ataupun lainnya. Hendaknya
setiap muslim merasa bangga
dengan agamanya, tidak menjadi
orang yang tidak mempunyai
pegangan dan ikut-ikutan.
Semoga Allah Subhanahu wa
Ta'ala melindungi kaum muslimin
dari segala fitnah (ujian hidup)
yang tampak ataupun yang
tersembunyi, dan semoga
meliputi kita semua dengan
bimbinga-Nya."
Mengekornya kaum muslimin
terhadap gaya hidup orang kafir
akan membuat mereka senang
dan dapat melahirkan kecintaan
dan keterikatan hati. Allah
berfirman (yang artinya), "Hai
orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengambil
orang-orang Yahudi dan Nasrani
menjadi pemimpin-pemimpinmu;
sebagian mereka adalah
pemimpin bagi sebagian yang
lain. Barang siapa di antara
kamu mengambil mereka
menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim." (QS.
Al-Maidah: 51).
"Kamu tidak akan mendapati
sesuatu kaum yang beriman
kepada Allah dan hari Akhirat,
saling berkasih sayang dengan
orang-orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al-
Mujadilah: 22)
Mengekornya kaum
muslimin terhadap gaya
hidup orang kafir akan
membuat mereka senang
dan dapat melahirkan
kecintaan dan keterikatan
hati.
Semoga Allah Subhanahu wa
Ta'ala senantiasa menjadikan
hidup kita penuh dengan
kecintaan dan kasih sayang yang
tulus, yang menjadi jembatan
untuk masuk ke dalam surga
yang hamparannya seluas langit
dan bumi, yang disediakan bagi
orang-orang yang bertakwa.
Semoga Allah menjadikan kita
termasuk dalam golongan
orang-orang yang disebutkan
dalam hadis Qudsi, Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman
yang artinya, "Kecintaan-Ku
adalah bagi mereka yang saling
mencintai karena Aku, saling
berkorban karena Aku, dan yang
saling mengunjungi karena
Aku." (HR Ahmad). Wallahu
a'lam.
Sumber:
1. The standart International
Dictionary, jilid 18 halaman 5090.
The Encyclopedia Americana, jilid
27 halaman 859. (dari
www.isnet.org/archive-milis/
archive99).
2. Valentine's Day Bukan Ajaran
Islam, Drs. Nur'i Yakin Mch, SH,
M.Hum.
3. www.alsofwah.or.id
4. www.hidayatullah.com
[PurWD/voa-islam.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkatalah dengan sopan santun..:D